News Ticker

Menu

Browsing "Older Posts"

Browsing Category "Artikel"

kisah inspirasi kakek dan pencuri pepaya

Saturday, 3 October 2015 / No Comments
Saya ingin mengawali renungan kita kali ini dengan mengingatkan pada salah satu kisah kehidupan yang mungkin banyak tercecer di depan mata kita. Cerita ini tentang seorang kakek yang sederhana, hidup sebagai orang kampung yang bersahaja. Suatu sore, ia mendapati pohon pepaya di depan rumahnya telah berbuah. Walaupun hanya dua buah namun telah menguning dan siap dipanen. Ia berencana memetik buah itu di keesokan hari. Namun, tatkala pagi tiba, ia mendapati satu buah pepayanya hilang dicuri orang.

Kakek itu begitu bersedih, hingga istrinya merasa heran. “masak hanya karena sebuah pepaya saja engkau demikian murung” ujar sang istri.

“bukan itu yang aku sedihkan” jawab sang kakek, “aku kepikiran, betapa sulitnya orang itu mengambil pepaya kita. Ia harus sembunyi-sembunyi di tengah malam agar tidak ketahuan orang. Belum lagi mesti memanjatnya dengan susah payah untuk bisa memetiknya..”

“dari itu Bune” lanjut sang kakek, “saya akan pinjam tangga dan saya taruh di bawah pohon pepaya kita, mudah-mudahan ia datang kembali malam ini dan tidak akan kesulitan lagi mengambil yang satunya”.
Namun saat pagi kembali hadir, ia mendapati pepaya yang tinggal sebuah itu tetap ada beserta tangganya tanpa bergeser sedikitpun. Ia mencoba bersabar, dan berharap pencuri itu akan muncul lagi di malam ini. Namun di pagi berikutnya, tetap saja buah pepaya itu masih di tempatnya.

Di sore harinya, sang kakek kedatangan seorang tamu yang menenteng duah buah pepaya besar di tangannya. Ia belum pernah mengenal si tamu tersebut. Singkat cerita, setelah berbincang lama, saat hendak pamitan tamu itu dengan amat menyesal mengaku bahwa ialah yang telah mencuri pepayanya.

“Sebenarnya” kata sang tamu, “di malam berikutnya saya ingin mencuri buah pepaya yang tersisa. Namun saat saya menemukan ada tangga di sana, saya tersadarkan dan sejak itu saya bertekad untuk tidak mencuri lagi. Untuk itu, saya kembalikan pepaya Anda dan untuk menebus kesalahan saya, saya hadiahkan pepaya yang baru saya beli di pasar untuk Anda”.

Hikmah yang bisa diambil dari kisah inspirasi diatas, adalah tentang keikhlasan, kesabaran, kebajikan dan cara pandang positif terhadap kehidupan.

Mampukah kita tetap bersikap positif saat kita kehilangan sesuatu yang kita cintai dengan ikhlas mencari sisi baiknya serta melupakan sakitnya suatu “musibah”?

"Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya, dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya, dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta."

Kisah inspirasi diatas dikutip dari khutbah yang ditulis oleh ustadz Saiful Amien

Karena Ukuran Kita tidak sama

/ No Comments
"seperti sepatu yang kita pakai, tiap kaki memiliki ukurannya
memaksakan tapal kecil untuk telapak besar akan menyakiti
memaksakan sepatu besar untuk tapal kecil merepotkan
kaki-kaki yang nyaman dalam sepatunya akan berbaris rapi-rapi"

Seorang lelaki tinggi besar berlari-lari di tengah padang. Siang itu, mentari seakan didekatkan hingga sejengkal. Pasir membara, ranting-ranting menyala dalam tiupan angin yang keras dan panas. Dan lelaki itu masih berlari-lari. Lelaki itu menutupi wajah dari pasir yang beterbangan dengan surbannya, mengejar dan menggiring seekor anak unta.

Di padang gembalaan tak jauh darinya, berdiri sebuah dangau pribadi berjendela. Sang pemilik, ’Utsman ibn ‘Affan, sedang beristirahat sambil melantun Al Quran, dengan menyanding air sejuk dan buah-buahan. Ketika melihat lelaki nan berlari-lari itu dan mengenalnya,

“Masya Allah” ’Utsman berseru, ”Bukankah itu Amirul Mukminin?!”

Ya, lelaki tinggi besar itu adalah ‘Umar ibn Al Khaththab.

”Ya Amirul Mukminin!” teriak ‘Utsman sekuat tenaga dari pintu dangaunya,

“Apa yang kau lakukan tengah angin ganas ini? Masuklah kemari!”

Dinding dangau di samping Utsman berderak keras diterpa angin yang deras.

kisah inspirasi
”Seekor unta zakat terpisah dari kawanannya. Aku takut Allah akan menanyakannya padaku. Aku akan menangkapnya. Masuklah hai ‘Utsman!” ’Umar berteriak dari kejauhan. Suaranya bersiponggang menggema memenuhi lembah dan bukit di sekalian padang.

“Masuklah kemari!” seru ‘Utsman,“Akan kusuruh pembantuku menangkapnya untukmu!”.
”Tidak!”, balas ‘Umar, “Masuklah ‘Utsman! Masuklah!”
“Demi Allah, hai Amirul Mukminin, kemarilah, Insya Allah unta itu akan kita dapatkan kembali.“
“Tidak, ini tanggung jawabku. Masuklah engkau hai ‘Utsman, anginnya makin keras, badai pasirnya mengganas!”

Angin makin kencang membawa butiran pasir membara. ‘Utsman pun masuk dan menutup pintu dangaunya. Dia bersandar dibaliknya & bergumam,

”Demi Allah, benarlah Dia & RasulNya. Engkau memang bagai Musa. Seorang yang kuat lagi terpercaya.”
‘Umar memang bukan ‘Utsman. Pun juga sebaliknya. Mereka berbeda, dan masing-masing menjadi unik dengan watak khas yang dimiliki.

‘Umar, jagoan yang biasa bergulat di Ukazh, tumbuh di tengah bani Makhzum nan keras & bani Adi nan jantan, kini memimpin kaum mukminin. Sifat-sifat itu –keras, jantan, tegas, tanggungjawab & ringan tangan turun gelanggang – dibawa ‘Umar, menjadi ciri khas kepemimpinannya.

‘Utsman, lelaki pemalu, anak tersayang kabilahnya, datang dari keluarga bani ‘Umayyah yang kaya raya dan terbiasa hidup nyaman sentausa. ’Umar tahu itu. Maka tak dimintanya ‘Utsman ikut turun ke sengatan mentari bersamanya mengejar unta zakat yang melarikan diri. Tidak. Itu bukan kebiasaan ‘Utsman. Rasa malulah yang menjadi akhlaq cantiknya. Kehalusan budi perhiasannya. Kedermawanan yang jadi jiwanya. Andai ‘Utsman jadi menyuruh sahayanya mengejar unta zakat itu; sang budak pasti dibebaskan karena Allah & dibekalinya bertimbun dinar.

Itulah ‘Umar. Dan inilah ‘Utsman. Mereka berbeda.

Bagaimanapun, Anas ibn Malik bersaksi bahwa ‘Utsman berusaha keras meneladani sebagian perilaku mulia ‘Umar sejauh jangkauan dirinya. Hidup sederhana ketika menjabat sebagai Khalifah misalnya.

“Suatu hari aku melihat ‘Utsman berkhutbah di mimbar Nabi ShallaLlaahu ‘Alaihi wa Sallam di Masjid Nabawi,” kata Anas . “Aku menghitung tambalan di surban dan jubah ‘Utsman”, lanjut Anas, “Dan kutemukan tak kurang dari tiga puluh dua jahitan.”

Dalam Dekapan ukhuwah, kita punya ukuran-ukuran yang tak serupa. Kita memiliki latar belakang yang berlainan. Maka tindak utama yang harus kita punya adalah; jangan mengukur orang dengan baju kita sendiri, atau baju milik tokoh lain lagi.

Dalam dekapan ukhuwah setiap manusia tetaplah dirinya. Tak ada yang berhak memaksa sesamanya untuk menjadi sesiapa yang ada dalam angannya.

Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat tulus pada saudara yang sedang diberi amanah memimpin umat. Tetapi jangan membebani dengan cara membandingkan dia terus-menerus kepada ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz.

Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat pada saudara yang tengah diamanahi kekayaan. Tetapi jangan membebaninya dengan cara menyebut-nyebut selalu kisah berinfaqnya ‘Abdurrahman ibn ‘Auf.

Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat saudara yang dianugerahi ilmu. Tapi jangan membuatnya merasa berat dengan menuntutnya agar menjadi Zaid ibn Tsabit yang menguasai bahawa Ibrani dalam empat belas hari.

Sungguh tidak bijak menuntut seseorang untuk menjadi orang lain di zaman yang sama, apalagi menggugatnya agar tepat seperti tokoh lain pada masa yang berbeda. ‘Ali ibn Abi Thalib yang pernah diperlakukan begitu, punya jawaban yang telak dan lucu.

“Dulu di zaman khalifah Abu Bakar dan ‘Umar” kata lelaki kepada ‘Ali, “Keadaannya begitu tentram, damai dan penuh berkah. Mengapa di masa kekhalifahanmu, hai Amirul Mukminin, keadaanya begini kacau dan rusak?”

“Sebab,” kata ‘Ali sambil tersenyum, “Pada zaman Abu Bakar dan ‘Umar, rakyatnya seperti aku.
Adapun di zamanku ini, rakyatnya seperti kamu!”

Dalam dekapan ukhuwah, segala kecemerlangan generasi Salaf memang ada untuk kita teladani. Tetapi caranya bukan menuntut orang lain berperilaku seperti halnya Abu Bakar, ‘Umar, “Utsman atau ‘Ali.

Sebagaimana Nabi tidak meminta Sa’d ibn Abi Waqqash melakukan peran Abu Bakar, fahamilah dalam-dalam tiap pribadi. Selebihnya jadikanlah diri kita sebagai orang paling berhak meneladani mereka. Tuntutlah diri untuk berperilaku sebagaimana para salafush shalih dan sesudah itu tak perlu sakit hati jika kawan-kawan lain tak mengikuti.

Sebab teladan yang masih menuntut sesama untuk juga menjadi teladan, akan kehilangan makna keteladanan itu sendiri. Maka jadilah kita teladan yang sunyi dalam dekapan ukhuwah.

Ialah teladan yang memahami bahwa masing-masing hati memiliki kecenderungannya, masing-masing badan memiliki pakaiannya dan masing-masing kaki mempunyai sepatunya. Teladan yang tak bersyarat dan sunyi akan membawa damai. Dalam damai pula keteladannya akan menjadi ikutan sepanjang masa.

Selanjutnya, kita harus belajar untuk menerima bahwa sudut pandang orang lain adalah juga sudut pandang yang absah. Sebagai sesama mukmin, perbedaan dalam hal-hal bukan asasi
tak lagi terpisah sebagai “haq” dan “bathil”. Istilah yang tepat adalah “shawab” dan “khatha”.

Tempaan pengalaman yang tak serupa akan membuatnya lebih berlainan lagi antara satu dengan yang lain.

Seyakin-yakinnya kita dengan apa yang kita pahami, itu tidak seharusnya membuat kita terbutakan dari kebenaran yang lebih bercahaya.

Imam Asy Syafi’i pernah menyatakan hal ini dengan indah. “Pendapatku ini benar,” ujar beliau,”Tetapi mungkin mengandung kesalahan. Adapun pendapat orang lain itu salah, namun bisa jadi mengandung kebenaran.” sepenuh cinta.

Penulis Salim A. Fillah

Mulianya Sikap Memaafkan Dari Pada Dimaafkan

Wednesday, 23 July 2014 / No Comments
Salah satu sifat mulia yang dianjurkan dalam Al Qur’an adalah sikap memaafkan:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh. (QS. Al-A'raf 7:199)

Dalam ayat lain Allah berfirman:

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

"...dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. An Nuur, 24:22)

Mereka yang tidak mengikuti ajaran mulia Al Qur'an akan merasa sulit memaafkan orang lain. Sebab, mereka mudah marah terhadap kesalahan apa pun yang diperbuat. Padahal, Allah telah menganjurkan orang beriman bahwa memaafkan adalah lebih baik:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
... dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. At Taghaabun, 64:14)

Berlandaskan hal tersebut, kaum beriman adalah orang-orang yang bersifat memaafkan, pengasih dan berlapang dada, sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur'an :

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
"Yaitu orang2 yang menginfakkan hartanya ketika lapang dan sempit dan menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain." (QS. Ali ‘Imraan, 3:134)


Menurut Harun Yahya Para peneliti percaya bahwa pelepasan hormon stres, kebutuhan oksigen yang meningkat oleh sel-sel otot jantung, dan kekentalan yang bertambah dari keping-keping darah, yang memicu pembekuan darah menjelaskan bagaimana kemarahan meningkatkan peluang terjadinya serangan jantung. Ketika marah, detak jantung meningkat melebihi batas wajar, dan menyebabkan naiknya tekanan darah pada pembuluh nadi, dan oleh karenanya memperbesar kemungkinan terkena serangan jantung.

Pemahaman orang-orang beriman tentang sikap memaafkan sangatlah berbeda dari mereka yang tidak menjalani hidup sesuai ajaran Al Qur'an. Meskipun banyak orang mungkin berkata mereka telah memaafkan seseorang yang menyakiti mereka, namun perlu waktu lama untuk membebaskan diri dari rasa benci dan marah dalam hati mereka. Sikap mereka cenderung menampakkan rasa marah itu. Di lain pihak, sikap memaafkan orang-orang beriman adalah tulus. Karena mereka tahu bahwa manusia diuji di dunia ini, dan belajar dari kesalahan mereka, mereka berlapang dada dan bersifat pengasih. Lebih dari itu, orang-orang beriman juga mampu memaafkan walau sebenarnya mereka benar dan orang lain salah. Ketika memaafkan, mereka tidak membedakan antara kesalahan besar dan kecil. Seseorang dapat saja sangat menyakiti mereka tanpa sengaja. Akan tetapi, orang-orang beriman tahu bahwa segala sesuatu terjadi menurut kehendak Allah, dan berjalan sesuai takdir tertentu, dan karena itu, mereka berserah diri dengan peristiwa ini, tidak pernah terbelenggu oleh amarah.

Menurut penelitian terakhir, para ilmuwan Amerika membuktikan bahwa mereka yang mampu memaafkan adalah lebih sehat baik jiwa maupun raga. Orang-orang yang diteliti menyatakan bahwa penderitaan mereka berkurang setelah memaafkan orang yang menyakiti mereka. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang yang belajar memaafkan merasa lebih baik, tidak hanya secara batiniyah namun juga jasmaniyah. Sebagai contoh, telah dibuktikan bahwa berdasarkan penelitian, gejala-gejala pada kejiwaan dan tubuh seperti sakit punggung akibat stress [tekanan jiwa], susah tidur dan sakit perut sangatlah berkurang pada orang-orang ini.

Memaafkan, adalah salah satu perilaku yang membuat orang tetap sehat, dan sebuah sikap mulia yang seharusnya diamalkan setiap orang

Dalam bukunya, Forgive for Good [Maafkanlah demi Kebaikan], Dr. Frederic Luskin menjelaskan sifat pemaaf sebagai resep yang telah terbukti bagi kesehatan dan kebahagiaan. Buku tersebut memaparkan bagaimana sifat pemaaf memicu terciptanya keadaan baik dalam pikiran seperti harapan, kesabaran dan percaya diri dengan mengurangi kemarahan, penderitaan, lemah semangat dan stres. Menurut Dr. Luskin, kemarahan yang dipelihara menyebabkan dampak ragawi yang dapat teramati pada diri seseorang. Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa:

Permasalahan tentang kemarahan jangka panjang atau yang tak berkesudahan adalah kita telah melihatnya menyetel ulang sistem pengatur suhu di dalam tubuh. Ketika Anda terbiasa dengan kemarahan tingkat rendah sepanjang waktu, Anda tidak menyadari seperti apa normal itu. Hal tersebut menyebabkan semacam aliran adrenalin yang membuat orang terbiasa. Hal itu membakar tubuh dan menjadikannya sulit berpikir jernih – memperburuk keadaan.

Sebuah tulisan berjudul "Forgiveness" [Memaafkan], yang diterbitkan Healing Current Magazine [Majalah Penyembuhan Masa Kini] edisi bulan September-Oktober 1996, menyebutkan bahwa kemarahan terhadap seseorang atau suatu peristiwa menimbulkan emosi negatif dalam diri orang, dan merusak keseimbangan emosional bahkan kesehatan jasmani mereka. Artikel tersebut juga menyebutkan bahwa orang menyadari setelah beberapa saat bahwa kemarahan itu mengganggu mereka, dan kemudian berkeinginan memperbaiki kerusakan hubungan. Jadi, mereka mengambil langkah-langkah untuk memaafkan. Disebutkan pula bahwa, meskipun mereka tahan dengan segala hal itu, orang tidak ingin menghabiskan waktu-waktu berharga dari hidup mereka dalam kemarahan dan kegelisahan, dan lebih suka memaafkan diri mereka sendiri dan orang lain.

Semua penelitian yang ada menunjukkan bahwa kemarahan adalah sebuah keadaan pikiran yang sangat merusak kesehatan manusia. Memaafkan, di sisi lain, meskipun terasa berat, terasa membahagiakan, satu bagian dari akhlak terpuji, yang menghilangkan segala dampak merusak dari kemarahan, dan membantu orang tersebut menikmati hidup yang sehat, baik secara lahir maupun batin. Namun, tujuan sebenarnya dari memaafkan –sebagaimana segala sesuatu lainnya – haruslah untuk mendapatkan ridha Allah. Kenyataan bahwa sifat-sifat akhlak seperti ini, dan bahwa manfaatnya telah dibuktikan secara ilmiah, telah dinyatakan dalam banyak ayat Al Qur’an, adalah satu saja dari banyak sumber kearifan yang dikandungnya.

Mulai saat inilah tidak ada kata terlambat bagi kita untuk selalu introspeksi diri, sejauh mana dada dan hati kita memaafkan kesalahan orang lain atau meminta maaf atas segala kesalahan kita. Hindari sikap egoisme dalam diri yang membuat setiap manusia lupa akan hakikat jati dirinya. Karena manusia yang besar adalah manusia yang dapat mengendalikan hawa nafsunya, tidak mudah marah, lapang dada dan hatinya serta selalu mementingkan kemaslahatan ummah.

Tafsir Surah ALI IMRAN AYAT 28

Tuesday, 22 July 2014 / No Comments
Tafsir firman Allah  ta'ala dalam surah Ali ‘Imran ayat ke-28 :

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ

 “Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali[1] dengan meninggalkan orang-orang mukmin. barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali Karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. dan Hanya kepada Allah kembali (mu).   Katakanlah: "Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah Mengetahui". Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

A.    Asbabun Nuzul ayat ini

Ada dua riwayat mengenai sebab turunnya ayat ini, yakni sebagai berikut :

1.     Dalam  tafsir AtTabari (3/228) dikatakan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan Al-Hajjaj bin Amr, yang mempunyai teman orang-orang Yahudi yaitu Ka’ab bin Al-Asyraf, Ibnu Abi Haqiq dan Qais bin Zaid kemudian ada beberapa sahabat  yang menasehatinya dan berkata :”Jauhilah mereka dan engkau harus berhati-hati karena mereka nanti akan memberi fitnah kepadamu  tentang agama dan kamu akan tersesatkan dari jalan kebenaran.”  Namun sahabat yang dinasehati mengabaikan nasehat ini, dan mereka masih tetap memberi sedekah kepada orang-orang Yahudi dan bersahabat dengan mereka, maka kemudian turun ayat tersebut.

2.      Sedangkan dalam tafsir Al-Qurthubi (4/58) disebutkan bahwa  Ibnu Abbas a berkata bahwasanya ayat ini turun kepada Ubadah bin Shamit, bahwasanya beliau mempunyai beberapa sahabat orang Yahudi dan ketika Nabi n keluar bersama para sahabatnya untuk berperang (Ahzab) Ubadah berkata kepada Rasulullah “wahai Nabi Allah aku mambawa lima ratus orang Yahudi  mereka akan kelur bersamaku dan akan ikut memerangi musuh.” Maka kemudian turunlah ayat tersebut.

B.      Penjelasan Kata

لَا يَتَّخِذِ             : Tidak menjadikan

أوليآء               : Kata Auliya’ adalah bentuk jama’ dari kata wali (yang berarti teman yang akrab, juga berarti pemimpin, pelindung atau penolong). Yakni janganlah menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin (juga teman dekat), dan jangan memberikan kepada mereka dengan memberi pertolongan sebagai bentuk loyalitas, menyatakan kecintaan dan dukungan (dalam masalah agama)

فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ  : Yakni Allah ta'ala berlepas diri darinya, maka ia akan celaka

تُقَاةً                  : Melindungi diri dengan menggunakan lisan (ucapan) yaitu kata-kata yang dapat melunakkan sikap orang dan menjauhkan permusuhan.

وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ : Allah ‘Azza wa jalla memberi peringatakan dan kewaspadaan kepadamu terhadap siksaan-Nya yaitu jika kamu berbuat maksiat kepada-Nya.

C.     Kandungan ayat

Menurut al Qurthubi, ayat ini memiliki kandungan dua hal, yang pertama larangan memberikan loyalitas dan kasih sayang kepada orang kafir. Yang kedua  bolehnya bertaqiyah (menyembunyikan keimanan karena takut) karena lemahnya umat islam kala itu. (Tafsir al Qurthubi : 4/57)

Tafsir at Thabari (6/313) : Ayat ini adalah larangan dari Allah ’azza wa jalla kepada orang-orang mukmin untuk menjadikan orang-orang kafir sebagai penolong, pelindung, dan mencintainya.

Sedangkan dalam tafsir Ibnu Katsir (2/30) : (Dengan ayat ini) Allah melarang hamba-hambanya yang beriman untuk berwala’ (memberikan loyalitas) kepada orang-orang kafir dan mengambil mereka sebagai wali.

Demikian pula kita akan temukan penjelasan yang tidak jauh berbeda  dalam tafsir-tafsir yang lain seperti tafsir Ibnu Mundzir (1/165-166),  tafsir Ibnu Hatim (2/628-629), Fath al Qadir (1/380) dan yang lainnya.

D.    Ayat yang serupa (larangan mengangkat orang kafir sebagai wali)

QS. Al-Maidah ayat 51 : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”

QS. Al-Mumtahanah  ayat 1 : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang..”

QS. An Nisa’ ayat 144 :  “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu'min. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu) ?”

QS. At Taubah ayat  9 :  “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

QS. Ali Imran ayat 118 : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu.”

Demikian tafsir dari ayat ini, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

SebuahKeharusan Memerangi Orang Kafir

Thursday, 10 July 2014 / No Comments
Assalamualaikum Wr,Wb

Maksud dari tafsir :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ قَاتِلُواْ الَّذِينَ يَلُونَكُم مِّنَ الْكُفَّارِ وَلِيَجِدُواْ فِيكُمْ غِلْظَةً وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan Ketahuilah, bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa.” (QS. At Taubah : 123)

Didalam menafsirkan ayat diatas, Al Qurthubi mengatakan bahwa Allah swt membertitahu orang-orang beriman tentang cara berjihad. Hendaklah dimulai dengan daerah musuh yang terdekat terlebih dahulu baru setelahnya. Begitulah Rasulullah saw melakukannya dengan memulainya dari jazirah Arab lalu Romawi yang saat itu berada di Syam. (al jami’ Li Ahkamil Qur’an juz jilid IV hal 607)

Didalam sejarah disebutkan bahwa setelah Rasulullah saw berhasil menundukkan orang-orang musyrikin di jazirah Arab dan Allah membebaskan negeri-negerinya, seperti Mekah, Madinah, Thaif, Yaman, Yamammah dan lainnya dan menjadikan manusia dari berbagai pelosok jazirah berbondong-bondong masuk kedalam agama islam lalu beliau saw mengalihkan perhatiannya untuk memerangi orang-orang ahli kitab dengan memerangi orang-orang Romawi di tabuk pada tahun 9 H.

Setelah beliau saw wafat di tahun 10 H tepatnya sebelas hari setelah melaksanakan Haji Wada maka urusan jihad tersebut diteruskan oleh Abu Bakar dengan memerangi orang-orang yang murtad dan enggan membayar zakat.

Ibnu katsir menyebutkan bahwa setelah Abu Bakar memerangi orang-orang murtad dan enggan membayar zakat lalu dia mempersiapkan pasukannya untuk menuju Romawi para penyembah salib dan Parsia para penyembah api. Allah pun memberikan kemenangan kepada pasukannya, menundukkan Kisra dan Qoisar serta menginfakkan kekayaan dari kedua negeri itu di jalan Allah swt sebagaimana diberitakan oleh Rasulullah saw.

Urusan jihad kemudian beralih kepada al Faruq, Abu Hafshin Umar bin Khottob yang dengannya Allah swt menekuk kesombongan kaum akfir atheis, menundukan para thaghut dan orang-orang munafik. Umar berhasil menguasai kerajaan-kerajaan yang ada di timur dan barat…

Setelah Umar syahid dan menjalani hidupnya dengan kemuliaan maka para sahabat dari kalangan Muhajirin dan Anshar bersepakat untuk memberikan kekhilafahan Amirul Mukminin kepada Utsman bin ‘Affan… Pada masa Utsman, islam mengalami kejayaan di timur dan barat dan kalimat Allah menjadi tinggi.. (Tafsir Al Qur’an Al Azhim juz IV hal 238)

Semisal dengan surat At Taubah ayat 123 ini adalah surat Al Fath : 29

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاء عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاء بَيْنَهُمْ
Artinya : “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (QS. Al Fath : 29)

Kedua ayat tersebut bukanlah ditujukan kepada semua orang kafir akan tetapi hanya terhadap orang-orang kafir yang memerangi kaum muslimi. Setiap muslim diperintahkan untuk berbuat baik kepada semua manusia termasuk orang-orang kafir yang suka perdamaian dan tidak memerangi kaum muslimin, sebagaimana perintah Allah swt.

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
Artinya : “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu Karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al Mumtahanah : 8)

Wallahu A’lam

Membalas Keburukan dengan Sebuah Kebaikan

Thursday, 3 July 2014 / No Comments
Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar (TQS Fushilat [41]: 34-35).

Seorang Muslim harus menghiasi dirinya dengan berbagai akhlak mahmudah, sifat-sifat terpuji. Banyak ayat dan hadits memerintahkannya. Juga menjelaskan berbagai sifat yang terkategori sebagai sebagai sifat terpuji yang diperintahkan syara’. Di antara sifat tersebut adalah akhlak dalam menghadapi orang-orang yang berbuat keburukan terhadap kita. Ayat ini memberikan tuntunan kepada kaum Muslim dalam menyikapi kejadian tersebut.

Membalas dengan Kebaikan

Allah SWT berfirman: Walâ yastawî al-hasanah wa lâ al-say`ah (dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan). Menurut al-Raghib al-Asfahani, secara bahasa kata al-hasanah digunakan untuk menyebut semua kenikmatan menyenangkan yang diperoleh manusia, baik pada diri, badan, maupun kondisinya. Sedangkan al-syay`ah berarti sebaliknya. Dalam ayat ini juga ditegaskan bahwa keduanya lâ yastawî (tidak sama). Sebagaimana diterangkan Ibnu Katsir, antara keduanya terdapat farq[un] azhîm[un] (perbedaan besar).
Diterangkan al-Syaukani, al-hasanah yang dimaksud adalah al-hasanah yang diridhai Allah SWT dan diberikan pahala. Sebaliknya, al-syay`ah adalah al-syay`ah yang dibenci Allah SWT dan diberikan hukuman atasnya. Penjelasan senada juga dikemukakan al-Thabari. Dikatakan oleh mufassir tersebut, tidak sama antara beriman dengan Allah dan mengerjakan ketaatan dengan menyekutukan-Nya dan melakukan perbuatan maksiat kepada-Nya.

Di antara mufassir ada yang menafsirkan al-hasanah dan al-syay`ah dalam ayat ini menunjuk kepada jenis tertentu. Fakhruddin al-Razi, misalnya, mengatakan bahwa yang dimaksud dengan al-hasanah (kebaikan) di sini adalah dakwah Rasulullah SAW kepada agama yang haq, sabar terhadap kebodohan orang-orang kafir, tidak melakukan pembalasan, dan  tidak berpaling kepada mereka.

Sedangkan al-say`ah (keburukan, kejahatan) adalah perkataan buruk yang mereka tampakkan, “Hati kami telah terkunci dari apa yang kalian serukan kepada kami”; perkataan yang mereka sampaikan, “Janganlah kalian mengikuti Alquran ini dan anggaplah tidak ada gunanya!” Seolah-olah Dia berfirman, “Wahai Muhammad, perbuatanmu baik sementara perbuatan mereka buruk. Tidak sama antara kebaikan dan keburukan, dalam arti: Jika engkau membawa kebaikan, maka meniscayakan penghormatan di dunia dan pahala di akhirat. Sedangkan mereka berlaku sebaliknya. Maka tindakan buruk mereka tidak seharusnya mencegah kamu melakukan kebaikan.

Perbuatan tersebut jelas termasuk dalam cakupan al-hasanah dan al-syay`ah al-syay`ah yang disebutkan ayat ini. Namun, karena lafadz ayat ini bersifat umum, maka tidak terbatas hanya perbuatan tersebut. Sebagiamana dijelaskan al-Syaukani, tidak ada indikasi yang menunjukkan al-hasanah (kebaikan) yang dimaksud untuk satu jenis ketaatan tertentu. Demikian pula dengan al-syay`ah (keburukan), tidak ada kekhususan yang membatasi hanya untuk jenis kemaksiatan tertentu.  

Kemudian Allah SWT berfirman: Idfa’ bi al-latî hiya ahsan (tolaklah [kejahatan itu] dengan cara yang lebih baik). Diterangkan al-Syaukani, pengertian dari ayat ini adalah: Tolaklah keburukan jika datang kepadamu dengan pembalasan yang lebih baik; yakni membalas keburukan dengan kebaikan, dosa dengan maaf, kemarahan dengan kesabaran. Dikatakan Mujahid dan ‘Atha, bi al-latî hiya ahsan berarti dengan salam jika bertemu dengan orang yang dimusuhi.

Selanjutnya Allah SWT menjelaskan tentang faedah dari sikap tersebut dengan firman-Nya: faidzâ al-ladzî baynaka wa baynahu ‘adâwah ka annahu waliyy hamîm (maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia). Kata waliyy halîm berarti al-shadîq (sahabat). Dikatakan Ibnu Katsir, apabila kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk kepadamu, maka kebaikan itu akan menuntun dia untuk mencintai dan condong kepadamu hingga dia berubah seolah-olah sahabat dekatmu karena kasih sayang dan kebaikannya.

Abdurrahman al-Sa’di menjelaskan, apabila ada orang yang melakukan keburukan kepadamu—khususnya orang-orang yang memiliki hak yang besar terhadapmu, seperti kerabat, sahabat, dan semacamnya—baik dengan ucapan maupun perbuatan, maka balaslah dengan kebaikan. Jika memutuskan silaturahim, maka sambunglah; jika menzalimimu, maafkanlah; jika membincangkan keburukanmu, baik di depanmu atau di belakangmu, jangan dibalas, namun maafkan dan perlakukanlah dengan perkataan yang lembut. Jika memutuskan hubungan dengan kamu dan tidak menyapamu, maka perbaikilah perkataanmu terhadapnya dan berikanlah salam. Jika kamu membalas keburukan dengan kebaikan, akan menghasilkan faedah yang besar.
Anugerahkan bagi yang Sabar

Setelah diterangkan tentang perintah membalas keburukan dengan keburukan beserta faedahnya, kemudian Allah SWT berfirman: wa mâ yulaqqâhâ (sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan). Bahwa Allah SWT tidak memberikan sifat terpuji tersebut, yakni kesedian membalas keburukan dengan kebaikan itu: illâ al-ladzîna shabarû (melainkan kepada orang-orang yang sabar). Yakni oang-orang yang memiliki sifat sabar. Menurut al-Asfahani, al-shabr berarti menahan diri dalam kesusahan. Dikatakan al-Thabari, tidak diberikan sifat mau membalas keburukan dengan kebaikan itu kecuali orang-orang yang sabar.

Ditegaskan juga: Wamâ yulaqqâhâ illâ dzû hazhzh[in] ‘azhîm[in] (dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar). Dikatakan Ibnu ‘Abbas, hazhzh[in] ‘azhîm[in] adalah bagian yang melimpah dari kebaikan. Sedangkan Mujahid dan Qatadah menafsirkannya sebagai surga.

Demikianlah. Tindakan membalas kebaikan dengan kebaikan merupakan akhlak terpuji yang diperintahkan. Allah SWT berfirman: Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula) (TQS al-Rahman [55]: 60).
Ayat ini memerintahkan lebih dari itu. Yakni membalas keburukan dengan kebaikan. Tindakan ini bisa memberikan manfaat besar, baik orang yang membalas atau orang yang dibalas. Di antara kegunaannya, sebagaimana diungkap ayat ini adalah dapat mengantarkan kepada orang yang memusuhi menjadi kawan dekat.  Semoga kita termasuk yang diberikan sifat sabar. Wal-Lâh a’lam bi a-shawâb.

Cintailah Allah, Rasul-Nya, dan Jihad

Monday, 30 June 2014 / No Comments
Mencintai sudah menjadi sifat alami manusia, bahkan karena dengan rasa cinta itulah dunia menjadi indah. Cinta yang benar selalu membawa kebahagiaan bagi sang pecinta walau bagaimanapun pahit jalan hidupnya. Tetapi ada juga yang mencintai dengan cara keliru. Bagaimana kita menempatkan rasa cinta agar pas sesuai dengan posisinya? Cinta apa sajakah itu? Berikut paparan dr. Marijati, ibu rumah tangga dengan empat orang anak, yang bekerja sebagai dokter praktik sekaligus menjadi konsultan keluarga dan pengisi acara Pra-Nikah di salah satu radio Islam d Kota Solo.

Cinta adalah sesuatu yang universal, bagaimana seorang muslim semestinya memandang soal cinta?
Cinta itu alami, thobi'i istilahnya. Sangat umum dan wajar dimiliki oleh setiap orang karena dengan rasa cinta inilah dunia menjadi indah dalam pandangan manusia. Sebagaimana disebutkan Allah dalam Q.S. Ali Imron ayat 14. Adapun bagi orang Islam, tentang perasaan cinta ini Allah swt. menghendaki agar kita menempatkannya sesuai dengan urutan yang benar.

Bagaimana urutan cinta yang benar itu, Ustadzah?

Kembali pada makna dua kalimat syahadat yang menjadi intisari keimanan, maka tidak ada yang dicintai melebihi Allah dan menjadikan Rasulullah sebagai uswatun hasanah dalam mempraktikkan kecintaan itu. Sehingga jika diurutkan, maka cinta yang pertama dan utama adalah cinta kepada Allah, Rasul-Nya, dan jihad. Selanjutnya ibu, ibu, ibu, lalu ayah. Barulah setelah itu menyusul rasa cinta untuk yang lain, keluarga dan manusia yang lain. “.. Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya… “ (Q.S. At-Taubah: 24). Dan sebuah hadits yang diriwayatkan dari Umar bin Khaththab, Rasulullah bersabda: …”Tidak beriman seseorang sehingga dia mencintai Allah, Rasul-Nya, dan jihad melebihi cintanya kepada dirinya sendiri.”
Karena itu tidak tepat jika terjadi konflik pra-nikah, kita memenangkan calon pasangan daripada orang tua. Bagaimanapun orang tua itu sudah terbukti 'baik', dengan mengasuh kita sampai dewasa. Utamakan keridhaan orang tua sebelum pasangan atau anak kandung sendiri. Jika ini dipahami dan dilaksanakan insya Allah konflik antara mertua dan menantu akan minim sekali.

Soal berpacaran, jelas tidak dibenarkan dalam Islam. Kemudian ada konsep taaruf yang bagi banyak orang dirasa belum cukup untuk mengenali calon pasangan. Sehingga muncul pertanyaan, bagaimana pasangan itu nantinya jika sebelumnya tidak ada rasa cinta?

Tujuan orang pacaran itu katanya untuk saling mengenal lebih jauh. Sama saja dengan taaruf, saling mengenal, bedanya dalam ta'aruf masing-masing tidak punya rasa saling memiliki. Meskipun tidak jadi menikah tidak rugi apa-apa, tidak merasa kecewa atau sayang ketika harus berpisah. Karena memang belum sah jadi miliknya. Cinta itu ditumbuhkan setelah menikah dengan pasangan masing-masing. Sama saja seperti orang yang baru diterima bekerja, dia baru merasa senang, nyaman, dan mencintai pekerjaan itu setelah sekian waktu menjalaninya. Dan sakinah, mawaddah, wa rohmah (Q.S. Ar-Ruum: 21) itu dihadiahkan Allah swt. kepada pasangan yang telah diikat dalam pernikahan.

Cinta seperti apakah yang menjadi penguat dalam keluarga?
Cinta karena Allah dan Rasul-Nya, bukan semata-mata karena nafsu. Itu yang saya terapkan di dalam keluarga. Saat memilih pasangan saya cocokkan visi hidup kami, yaitu untuk dakwah menegakkan kalimatullah. Maka bagi keluarga muslim sudah sepantasnya menjadikan keimanan dan kecintaan kepada Allah sebagai pondasi keluarganya. Karena Allah saya mencintai suami dan anak-anak saya, demikian juga dengan mereka. Saling menjaga komitmen dan menjalankan tanggung jawab masing-masing.

Lantas bagaimana caranya bagi keluarga muslim agar selamat dunia akhirat?
Orang yang beriman itu disebutkan di dalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 165, “..Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah…”. Melebihi apapun di dunia ini. Nah, di antara manusia ada yang lalai, sehingga harta dan anak itu menjadi fitnah baginya di dunia ini (Q.S.Al-Anfal:28). Karena terlalu memanjakan anak atau kepincut dengan harta benda yang melimpah akhirnya lupa diri dan melalaikan dirinya dari Allah swt. Hal itu harus dihindari.

Perlakukan keluarga dengan 'penuh perasaan', bahwa mereka itu istimewa dan tidak terganti oleh orang lain. Lalu membangun komunikasi yang baik antara anggota keluarga satu sama lain, termasuk dengan keluarga besar dan khadimat (pembantu). Berikan kepercayaan penuh kepada anggota keluarga, bahwa kita akan saling mengingatkan jika keliru. Insya Allah dengan begitu tidak ada yang perlu disembunyikan jika semua saling memahami dan percaya. Dan faktor eksternal yakni ujian hidup dapat menjadi penguat cinta kasih dalam keluarga, kebersamaan pada saat terpuruk akan terasa manis dan menguatkan cinta yang sudah ada. (If)

Persiapan bekal kehidupan di akhirat

Thursday, 26 June 2014 / No Comments
Sudahkah kita mempersiapkan Bekal yang memadai untuk kehidupan di akhirat kelak ? Pertanyaan ini menjadi motivasi bagi mereka yang mengharapkan perjumpaan dengan Penciptanya. Perjumpaan yang menjadikan Tuhannya ridho akan segala apa yang telah diperbuatnya semasa hidup di dunia, Sehingga perjumpaan di akhirat membuahkan hasanah / kebaikan pula.

"Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui." QS. Al Ankabut: 64

Who wants to live forever ?

Bagi yang menginginkan kehidupan yang kekal dan abadi, akan mendapat jawaban di akhirat kelak. Yang diperlukan adalah Bekal saat mengarungi kehidupan dunia, dan sebaik-baiknya bekal adalah Taqwa.

"Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa dan bertaqwalah kepada Ku hai orang-orang yang berakal."  QS.2: 197

Sacara sederhana mereka yang mematuhi semua perintah Allah dan Nabi Muhammad SAW dan menghentikan semua larangan beliau disebut sebagai orang yang bertaqwa (muttaqin). Dalam Alquran dan hadis Allah dan Nabi Muhammad SAW telah menuntun manusia tentang apa yang boleh dan harus mereka lakukan (perintah) dan dan apa yang tidak boleh mereka lakukan (larangan).

Proses untuk menjadi muttaqin, kita lakukan dan kita latih setiap hari sepanjang hidup dengan melakukan berbagai ibadah dan kebaikan.  Momen latihan yang utama adalah saat melakukan ibadah shoum / puasa di bulan Ramadhan.

Taqwa juga merupakan solusi dalam kehidupan di dunia. Seperti firman Allah dalam QS. 65: 2 dan 3;"  ... Barang siapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangka. ... Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya."

Maka, dengan meningkatkan ketaqwaan akan memudahkan kita mendapatkan kehidupan di dunia dan di akhirat yang hasanah / baik. InsyaAllah ... Laa haula walla quwwata illabillah.

Peran al-Quran dalam Kehidupan Sayidah Fatimah as

Tuesday, 24 June 2014 / No Comments
Tiga Jumadil Tsani tahun 11 Hijriah, lebih dari 90 hari pasca wafatnya Rasulullah Saw adalah hari-hari yang penuh kesedihan dan kepahitan bagi Fatimah, putri Nabi. Kesedihan akibat ditinggal pergi ayahnya dari satu sisi dan kesengsaraan akibat ulah sekelompok orang saat itu membuat putri Nabi ini sangat menderita hingga jatuh sakit. Detik-detik akhir usia Fatimah as kian dekat, hanya satu hal yang menghiburnya dan itu adalah pesan Rasulullah Saw ketika mendekati kematian beliau kepada Fatimah. Rasul kepada putrinya bersabda,"Putriku setelah kepergianku, kamu adalah orang pertama dari keluargaku yang menyusulku."

Detik-detik menjelang kepergian Fatimah merupakan saat yang paling menyedihkan dan berat bagi Imam Ali as serta anak-anaknya. Kesedihan memenuhi rongga tenggorokan Ali as. Sebentar lagi ia akan kehilangan istri tercinta, seorang wanita yang hidupnya dipenuhi oleh keimanan, kesabaran dan ilmu. Ali akan segera berpisah dengan istrinya, seorang istri yang mampu menghibur penderitaannya selama mereka menjalani kehidupan suami-istri. Ketika Ali sedih maka kesedihan ini akan segera sirna dengan memandang wajah Fatimah as. Kini dengan teliti, Ali mengikuti setiap pandangan Fatimah yang akan segera berpisah darinya. Ali memahami bahwa selanjutnya ia tidak akan pernah lagi dapat memandang wajah putri Rasulullah ini untuk mengobati hatinya.

Tiba-tiba kesunyian itu dipecahkan oleh suara Fatimah as. Putri Rasulullah Saw ini berkata,"Wahai Ali ! Ketahuilah sebentar lagi aku akan meninggalkan kalian. Saat bepisah sebental lagi tiba. Dengarkan perkataanku ini ! Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Swt dan Muhamad adalah utusanNya. Surga dan neraka adalah suatu kebenaran. Hari Kiamat pasti tiba. Aku berwasiat kepadamu, setelah aku meninggal, mandikan aku dan kuburkanlah diriku di waktu malam serta jangan beritahu kepada orang lain. Kemudian duduklah di dekap kepalaku dan menghadaplah ke wajahku sambil membaca al-Qur'an serta berdoalah bagi diriku. Aku serahkan dirimu kepada Allah Swt dan kepada anak-anakku aku mendoakan mereka hingga hari kiamat."

Keutamaan Fatimah as bukan karena ia putri Rasulullah Saw saja. Keutamaan putri Nabi ini karena derajat keimanan tinggi dan akhlak mulianya. Ajaran suci al-Qur'an dan bimbingan Rasulullah berperan besar dalam proses pembentukan karakter dan jiwa Fatimah. Sebelum kami membahas peran signifikan ini, terlebih dahulu kami ingatkan bahwa sejumlah ayat al-Qur'an diturunkan berkenaan dengan wanita suci ini dan keluarganya. Di antaranya adalah Surat al-Kautsar yang diturunkan kepada Rasulullah ketika kelahiran Fatimah as. Allah Swt menyebut kelahiran wanita suci ini sebagai kebaikan besar bagi Rasulullah.

Allah Swt di ayat 33 surat al-Ahzab mengingatkan kesucian keluarga Nabi ini dan berfirman, "Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya." Diriwayatkan bahwa setelah Rasul menerima ayat ini, setiap beliau hendak menunaikan shalat dan pergi ke masjid, beliau senantisa mampir ke rumah Ali dan Fatimah serta mengetuk pintunya seraya berkata,"Wahai Ahlul Bait sudah saatnya shalat." Kemudian beliau membaca ayat ke 33 surat al-Ahzab tersebut.

Kedekatan dengan al-Qur'an merupakan salah satu keistimewaan Sayidah Fatimah as. Fatimah mendapat limpahan anugerah ilmu dan pengetahuan al-Qur'an yang tak terbatas. Jiwa dan ruhnya manifestasi dari ilmu-ilmu al-Qur'an. Saat menyampaikan pidato pertamanya di masjid pasca wafatnya Rasulullah, Fatimah mengingatkan poin ini bahwa al-Qur'an adalah peninggalan Nabi serta janji antara manusia dan Allah Swt. Ia berkata,"Allah Swt telah mengikat janji di antara kalian sejak lama dan merupakan peninggalan berharga untuk kalian." Sayidah Fatimah dengan ungkapan lain kepada umat Islam saat ini meningatkam bahwa al-Qur'an tidak mengandung kebatilan dan menyalahi hakikat. Cahaya al-Qur'an meliputi segala sesuatu serta memberikan cahaya kepada yang lain. Hujah dan argumentasi kitab suci ini dapat dimanfaatkan oleh semua orang dan setiap manusia meraih pengetahuan serta hidayah dari al-Qur'an sesuai dengan kapasitas mereka.

Terkait keagungan al-Qur'an, Sayidah Fatimah berkata,"Kitab suci al-Qur'an sangat agung, jika seseorang benar-benar mengikuti kitab suci ini dan mengamalkan setiap ajarannya maka ia akan sampai pada derajat tinggi kesempurnaan sehingga orang lain akan merasa iri." Di perkataan lainnya, Sayidah Fatimah menyebut al-Qur'an sebagai sumber dari ilmu dan hukum Ilahi. Dalam pandangan beliau, membaca al-Qur'an ditujukan untuk memahami ajarannya dan mengamalkannya. Beliau berkata,"Jika seorang muslim benar-benar mengikuti al-Qur'an maka ia akan sangat berbahagia serta dituntun menuju jalan keselamatan." Oleh karena itulah, Sayidah Fatimah pasca wafatnya Rasulullah mengingatkan umat Islam soal peran utama al-Qur'an untuk menghindari perselisihan di antara mereka.

Sayidah Fatimah berkata," Mengapa kalian menuju kesesatan, sedangkan di antara kalian terdapat al-Qur'an ? Ajaran al-Qur'an sangat jelas dan hukum-hukumnya pun kokoh. Tanda-tanda hidayah al-Qur'an trasnparan dan peringatannya pun jelas. Apakah kalian condong kepada al-Qur'an, atau apakah kalian mencari penengah selain kitab suci ini ? Sayidah Fatimah selain mengagungkan al-Qur'an dalam setiap ucapannya, juga beliau merupakan manifestasi dari ajaran tinggi kitab suci ini. Sejak masih kanak-kanak, Sayidah Fatimah sudah terbiasa dengan al-Qur'an karena beliau tumbuh besar di rumah wahyu. Kedekatan beliau dengan al-Qur'an terlihat jelas dari wasiat yang ditinggalkannya kepada Imam Ali as yang memintanya untuk membaca al-Qur'an bagi dirinya menjelang kematian hingga setelahnya.

Tak hanya untuk dirinya, Sayidah Fatimah juga membesarkan anak-anaknya dalam lindungan al-Qur'an. Salman al-Farisi meriwayatkan, suatu hari Rasulullah Saw mengirimku ke rumah Fatimah untuk suatu keperluan. Ketika sampai di rumah Fatimah, aku meminta izin untuk masuk. Saat itu aku saksikan Fatimah tengah menggiling gandum sambil melantunkan ayat-ayat suci al-Qur'an. Di riwayat lain disebutkan, suatu hari Imam Ali as tiba di rumah dan mendengar Fatimah tengah melantunkan ayat yang baru saja diturunkan kepada Rasulullah. Ali dengan heran bertanya, bagaimana kamu mengetahui ayat ini ? Fatimah menjawab, anakku Hasan yang membacakan bagiku ayat yang baru turun kepada ayahku ini. Sayidah Fatimah selain kepada keluarganya, juga mengajarkan pembantu beliau, Fidhah untuk senantiasa dekat dengan al-Qur'an. Kedekatan ini dapat disaksikan dengan sikap Fidhah yang kemudian tidak berkata-kata kecuali dengan menggunakan ayat al-Qur'an.

Ucapan yang mudah dan berpengaruh Sayidah Fatimah dalam menjelaskan akidah dan akhlak mulia merupakan harta karun yang dihiasi dengan ayat-ayat al-Qur'an. Sayidah Fatimah bukan saja menjelaskan keutamaan al-Qur'an dengan lisan dan ucapan, namun berdasarkan praktek di tengah masyarakat terhadap hakikat al-Qur'an. Pandangan Fatimah soal isu sosial dan politik saat itu bersumber dari ajaran suci al-Qur'an yang menyeru untuk memerangi kezaliman dan kefasadan serta diskriminasi.

Sayidah Fatimah dengan baik menunjukkan nilai-nilai akhlak dan spiritual di setiap nasehat, perkataan dan sikapnya. Beliau memahami bahwa kebahagian kehidupan akan kekal jika bersumber dari ajaran yang kekal pula serta menghindari untuk bersandar pada hal-hal yang fana. Ini adalah hakikat yang diajarkan ayat suci al-Qur'an. Di surat al-A'la disebutkan, berbahagialah bagi mereka yang mensucikan dirinya. Ideologi al-Qur'an ini membuat Sayidah Fatimah memahami bahwa kebahaian sejati hanya akan diperoleh dengan mengamalkan ajaran Ilahi dan mengimani penuh ajaran ini. Oleh karena itu, kita saksikan bahwa Sayidah Fatimah tidak pernah keagungan beliau digantungkan pada hal-hal yang fana.

Putri Rasulullah ini menggapai hal yang terbaik dari sisi Allah swt. Pandangan beliau ini bersumber dari al-Qur'an. Di surat al-Kahfi ayat 46 Allah Swt berfirman," Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan." Hal inilah yang mendorong beliau menghabiskan usinya dengan penghambaan penuh kepada Allah Swt. Dari penghambaan ini belaiu mengecap kelezatan spiritual. Dikutip dari (IRIB Indonesia)

Kriteria Memilih Pasangan Hidup Menurut Ketentuan Islam

Monday, 23 June 2014 / 1 Comment
"Dunia penuh perhiasan, dan perhiasan yang paling indah adalah wanita shalihah." (Hadits riwayat Imam Muslim) Keluarga sakinah sangat didambakan oleh siapa pun di dunia ini. Namun, faktanya lebih banyak bertolak belakang dengan apa yang kita idam-idamkan: kekecewaan, sakit hati, dan keputusasaan. Kerap timbul pertanyaan, apakah saya salah pilih? Atau dia bukan jodoh saya?

Allah SWT menciptakan sesuatu berpasang-pasangan (QS Adzdzariat:49). Dalam memilih pasangan, Rasulullah berpesan agar kita memperhatikan lima hal sebelum pernikahan berlangsung: kesiapan hati calon pengantin, tahu calon suami atau istri, bermusyawarah dengan keluarga, shalat istikharah, dan meminang dengan baik-baik.

Muhammad juga mewasiatkan empat kiat memilih istri.

Pertama kesalihan. Kata Rasulullah, "Jangan kamu menikahi wanita semata-mata karena kecantikannya, boleh jadi kecantikannya itu akan membinasakannya dan janganlah kamu menikahinya semata-mata karena hartanya, boleh jadi harta itu akan menyebabkan kedurhakaannya, tapi nikahilah olehmu yang beragama. Sesungguhnya wanita yang tak berhidung lagi tuli, tetapi beragama lebih baik bagimu."(Hadist Riwayat Abdullah bin Humaid).

Kedua subur dan romantis. "Nikahilah wanita yang penuh cinta kasih (romantis) dan subur," kata Nabi. "Karena sesungguhnya aku merasa bangga dengan jumlah kamu yang banyak di hari kiamat nanti." (Riwayat Imam at-Thabrani dan al-Hakim).

Ketiga berkenaan di hati, sebagaimana perintah Rasul kepada al-Mughirah bin Syu'bah agar melihat calon istrinya sebelum melamar.

Keempat diutamakan yang masih gadis atau perawan. Sabda Rasulullah, "Nikahilah wanita yang masih perawan karena mulut mereka lebih segar dan manis (budi bahasanya indah), dan lebih subur serta lebih ridha dengan kesederhanaan (tidak banyak tuntutan)." (Riwayat Imam at-Thabrani).

Dalam memilih suami pun, wanita dititipi tiga pesan.

Pertama, hendaknya mencari suami yang penuh tanggung jawab dan amanah. Dalam QS At-Tahrim: 6, Allah memerintahkan orang-orang beriman agar memelihara anak dan istrinya dari siksa api neraka.

Kedua, lelaki bertakwa pada Allah. "Barang siapa menikahkan putrinya dengan orang fasiq, sesungguhnya dia telah memutuskan tali kasih sayangnya." (Hadits riwayat Ibnu Hibban).

Ketiga, memiliki ilmu pengetahuan. Menjadi tanggung jawab suami untuk mendidik anak dan istrinya. 

Berbahagilah bagi yang Rajin Melaksanakan Shalat Dhuha

Saturday, 21 June 2014 / No Comments
SETAHUN belakangan ini sering saya mendapat kiriman pesan pendek (SMS) dari seseorang sahabat. Salah satu kebiasaannya mengirimkan SMS berisi ajakan shalat Dhuha. Macam-macam bunyi SMS-nya. Kadang diawali dengan nasihat yang membuat saya merenungi diri yang berkubang dalam lumpur dosa dan kesalahan. Kadang diselipi jok-jok segar yang membuat tersenyum.

Pada suatu hari ia ‘mewakafkan’ pulsanya untuk mengirim SMS tepat pada momentum Tahun Baru Islam, “Hikmah hijrah, semakin baik, meninggalkan yang munkar. Tinggalkan kemalasan menuju istiqamah beribadah. Monggo shalat Dhuha.”

Di kesempatan yang lain ia menulis, “Ya Allah, aku berlindung padaMu dari ilmu yang tidak manfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari jiwa yang tak pernah puas dan dari doa yang tidak terkabul. Matahri sudah tinggi, siap-siap shalat Dhuha.”

Ada juga SMS yang sangat memukul telak ke hati yang paling dalam, “Kita pernah bertemu dengan orang baik. Atau, orang yang menganggap diri kita baik. Benarkah? Sesungguhnya bukan kebaikan yang disandang, tapi ada kekuasaan Tuhan yang menutupi aib, kesalahan dan dosa-dosa kita sehingga tidak tampak. Kita tidak bisa bayangkan seandainya Tuhan tidak menutupi borok kita itu. Seandainya dosa itu berbau, maka tidak ada orang yang mau dekat dengan kita karena tidak tahan dengan baunya. Masihkah kita merasa baik? Kita hanya bisa minta kepada Tuhan agar menutupi kesalahan-kesalahan kita seperti yang terucap dalam doa diantara dua sujud. Ada 7 permohonan kita, satu di antaranya adalah WAJBURNI (tutupilah kesalahanku) dan Allah mengabulkan permintaan itu. Allahumma aamiin.. Waktunya shalat Dhuha.”

Shalat Dhuha mempunyai kedudukan mulia. Disunnahkan untuk kita kerjakan sejak terbitnya matahari sampai menjelang datangnya shalat dzuhur.

Seperti diungkap oleh Sayid Muhammad bin Alwi al-Maliki dalam bukunya Khasais al-Ummah al-Muhamadiyah tentang keutamaannya, penulis membeberkan keutamaan-keutamaan yang disediakan oleh Allah bagi hamba yang menunaikannya lengkap dengan sumber haditsnya.

Pertama, orang yang shalat Dhuha akan diampuni dosa-dosanya oleh Allah. “Barangsiapa yang selalu mengerjakan shalat Dhuha niscaya akan diampuni dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR. Turmudzi)

Kedua, barangsiapa yang menunaikan shalat Dhuha ia tergolong sebagai orang yang bertaubat kepada Alah. “Tidaklah seseorang selalu mengerjakan shalat Dhuha kecuali ia telah tergolong sebagai orang yang bertaubat.” (HR. Hakim).

Ketiga, orang yang menunaikan shalat Dhuha akan dicatat sebagai ahli ibadah dan taat kepada Allah. “Barangsiapa yang shalat Dhuha dua rakaat, maka dia tidak ditulis sebagai orang yang lalai. Barangsiapa yang mengerjakannya sebanyak empat rakaat, maka dia ditulis sebagai orang yang ahli ibadah. Barangsiapa yang mengerjakannya enam rakaat, maka dia diselamatkan di hari itu. Barangsiapa mengerjakannya delapan rakaat, maka Allah tulis dia sebagai orang yang taat. Dan barangsiapa yang mengerjakannya dua belas rakaat, maka Allah akan membangun sebuah rumah di surga untuknya.” (HR. At-Thabrani).

Keempat, orang yang istiqamah melaksanakan shalat Dhuha kelak ia akan masuk surga lewat pintu khusus, pintu Dhuha yang disediakan oleh Allah. “Sesungguhnya di dalam surga terdapat sebuah pintu bernama pintu Dhuha. Apabila Kiamat telah tiba maka akan ada suara yang berseru, ‘Di manakah orang-orang yang semasa hidup di dunia selalu mengerjakan shalat Dhuha? Ini adalah pintu buat kalian. Masuklah dengan rahmat Allah Subhanahu Wata’ala.” (HR. At-Thabrani).

Kelima, Allah menyukupkan rezekinya. “Wahai anak Adam, janganlah engkau merasa lemah dari empat rakaat dalam mengawali harimu, niscaya Aku (Allah) akan menyukupimu di akhir harimu.” (HR. Abu Darda`).

Keenam, orang yang mengerjakan shalat Dhuha ia telah mengeluarkan sedekah. “Hendaklah masing-masing kamu bersedekah untuk setiap ruas tulang badanmu pada setiap pagi. Sebab tiap kali bacaan tasbih itu adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh kepada yang ma’ruf adalah sedekah, mencegah yang mungkar adalah sedekah. Dan sebagai ganti dari semua itu, maka cukuplah mengerjakan dua rakaat sholat Dhuha.” (HR Muslim).

Selain keutamaan yang sudah disebutkan di atas, masih ada keutamaan lainnya yang sayang untuk dilewatkan begitu saja. Yaitu dengan mengerjakan shalat Dhuha ada pahala besar berupa pahala seperti orang yang haji dan umrah yang diterima oleh Allah. Barangkali kemuliaan ini masih belum diketahui oleh banyak orang.

Bunyi haditsnya, “Barangsiapa shalat subuh dengan berjamaah, kemudian duduk berdizkir kepada Allah sampai matahari terbit, lalu shalat dua rakaat, dia mendapat pahala seperti haji dan umrah yang sempurna, sempurna, sempurna.” (HR. Turmudzi).

Dalam buku yang berjudul Panduan Shalat Dhuha (Terbitan Darul Uswah, Yogyakarta, 2013) yang ditulis oleh Ibrahim an-Naji dan diterjemahkan oleh Ahmad Suryana ini, diketengahkan syarat-syarat untuk dapat meraih pahala umrah dan haji yang sempurna itu.

Pertama, diawali dengan shalat subuh berjamaah, meski tidak dilakukan di masjid seperti mushalla, ini sudah cukup. Batas minimalnya shalat berjmaah adalah antara imam dan makmun.

Kedua, duduk di tempat shalatnya sampai terbitnya matahari.

Ketiga, tidak mengerjakan perbuatan yang tidak bermanfaat. Syarat keempat menyibukkan diri dengan berzikir hingga waktu dibolehkannya shalat Dhuha.

Imam al-Ghazali menyebutkan amalan-amalan yang dilakukan di waktu antara subuh dan shalat Dhuha: berdoa, berzikir dengan tasbih, membaca al-Qur`an dan bertafafkur.

Kelima, mengerjakan shalat Dhuha di tempat ia berzikir tersebut meski hanya dua rakaat.

“Joging 20 menit menyehatkan tubuh, shalat Dhuha 2 rakaat tenangkan jiwa,” tulis sahabat saya suatu kali, maka bukan hanya jiwa yang tenang, dosa pun diampuni, dimudahkan dalam menjemput rezeki dan pahala umrah serta haji dapat diraih.

Berbahagilah orang yang shalat Dhuha. Mengawali pagi dengan ibadah. Santapan ruhani yang menggenapkan semangat menjalani kehidupan dengan penuh keyakinaan dan tawakal. Dari awal hingga akhir menautkan diri kepada Allah yang Maha Kaya.

Mudah-mudahan dengan mengetahui keutamaan shalat Dhuha kita lebih istiqamah melaksanakan shalat yang satu ini.*/penulis adalah pengajar di Pesantren Darut Tauhid, Malang.

Keutamaan Mengerjakan Sholat Subuh

/ No Comments
Shubuh adalah salah satu waktu di antara beberapa waktu, di mana Allah Ta’ala memerintahkan umat Islam untuk mengerjakan shalat kala itu. Allah Ta’ala berfirman,

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآَنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآَنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) Shubuh. Sesungguhnya shalat Shubuh tu disaksikan (oleh malaikat).” (Qs. Al-Isra’: 78)

Betapa banyak kaum muslimin yang lalai dalam mengerjakan shalat shubuh. Mereka lebih memilih melanjutkan tidurnya ketimbang bangun untuk melaksanakan shalat.  Jika kita melihat jumlah jama’ah yang shalat shubuh di masjid, akan terasa berbeda dibandingkan dengan jumlah jama’ah pada waktu shalat lainnya.

Keutamaan Shalat Shubuh

Apabila seseorang mengerjakan shalat shubuh, niscaya ia akan dapati banyak keutamaan. Di antara keutamaannya adalah

(1) Salah satu penyebab masuk surga

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى الْبَرْدَيْنِ دَخَلَ الْجَنَّة
“Barangsiapa yang mengerjakan shalat bardain (yaitu shalat shubuh dan ashar) maka dia akan masuk surga.” (HR. Bukhari no. 574 dan Muslim no. 635)

(2) Salah satu penghalang masuk neraka

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَنْ يَلِجَ النَّارَ أَحَدٌ صَلَّى قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا
“Tidaklah akan masuk neraka orang yang melaksanakan shalat sebelum terbitnya matahari (yaitu shalat shubuh) dan shalat sebelum tenggelamnya matahari (yaitu shalat ashar).” (HR. Muslim no. 634)

(3) Berada di dalam jaminan Allah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى صَلَاةَ الصُّبْحِ فَهُوَ فِي ذِمَّةِ اللَّهِ فَلَا يَطْلُبَنَّكُمْ اللَّهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيْءٍ فَإِنَّهُ مَنْ يَطْلُبْهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيْءٍ يُدْرِكْهُ ثُمَّ يَكُبَّهُ عَلَى وَجْهِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ
“Barangsiapa yang shalat subuh maka dia berada dalam jaminan Allah. Oleh karena itu jangan sampai Allah menuntut sesuatu kepada kalian dari jaminan-Nya. Karena siapa yang Allah menuntutnya dengan sesuatu dari jaminan-Nya, maka Allah pasti akan menemukannya, dan akan menelungkupkannya di atas wajahnya dalam neraka jahannam.” (HR. Muslim no. 163)

(4) Dihitung seperti shalat semalam penuh

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ
“Barangsiapa yang shalat isya` berjama’ah maka seolah-olah dia telah shalat malam selama separuh malam. Dan barangsiapa yang shalat shubuh berjamaah maka seolah-olah dia telah shalat seluruh malamnya.” (HR. Muslim no. 656)

(5) Disaksikan para malaikat

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَتَجْتَمِعُ مَلَائِكَةُ اللَّيْلِ وَمَلَائِكَةُ النَّهَارِ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ
 “Dan para malaikat malam dan malaikat siang berkumpul pada shalat fajar (subuh).” (HR. Bukhari no. 137 dan Muslim no.632)

Ancaman bagi yang Meninggalkan Shalat Shubuh

Padahal banyak keutamaan yang bisa didapat apabila seseorang mengerjakan shalat shubuh. Tidakkah kita takut dikatakan sebagai orang yang munafiq karena meninggalakan shalat shubuh? Dan kebanyakan orang meninggalkan shalat shubuh karena aktivitas tidur. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا
“Sesungguhnya shalat yang paling berat dilaksanakan oleh orang-orang munafik adalah shalat isya dan shalat subuh. Sekiranya mereka mengetahui keutamaan keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak.” (HR. Bukhari no. 657 dan Muslim no. 651)

Cukuplah ancaman dikatakan sebagai orang munafiq membuat kita selalu memperhatikan ibadah yang satu ini.
Semoga Allah selalu memberi hidayah kepada kita semua, terkhusus bagi para laki-laki untuk dapat melaksanakan shalat berjama’ah di masjid.

Penulis: Wiwit Hardi Priyanto

Keajaiban Melakukan Sholat Tahajud

Friday, 20 June 2014 / No Comments
“Jika matahari sudah terbenam, aku gembira dengan datangnya malam dan manusia tidur karena inilah saat hanya ada Allah dan aku.”

Sejarah telah mencatat bahwa Rasulullah Saw dan para sahabat selalu melaksanakan shalat tahajud. shalat tahajud adalah shalat yang sangat mulia. Keajaiban melaksanakan shalat tahajud telah tercatat dalam alquran. Ada beberapa keajaiban shalat tahajud seperti berikut ini:

1. Shalat Tahajud sebagai tiket masuk surga …

Abdullah Ibn Muslin berkata “kalimat yang pertama kali ku dengar dari Rasulullah Saw saat itu adalah, “Hai sekalian manusia! Sebarkanlah salam, bagikanlah makanan, sambunglah silaturahmi, tegakkan lah shalat malam saat manusia lainnya sedang tidur, niscaya kalian masuk surga dengan selamat.” (HR. Ibnu Majah).

2. Amal yang menolong di akhirat …

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada di dalam taman-taman surga dan di mata air-mata air, seraya mengambil apa yang Allah berikan kepada mereka. Sebelumnya mereka adalah telah berbuat baik sebelumnya (di dunia), mereka adalah orang-orang yang sedikit tidurnya di waktu malam dan di akhir malam mereka memohon ampun kepada Allah).” (QS. Az Zariyat: 15-18)

Ayat di atas menunjukkan bahwa orang yang senantiasa bertahajud Insya Allah akan mendapatkan balasan yang sangat nikmat di akhirat kelak.

3. Pembersih penyakit hati dan jasmani …

Salman Al Farisi berkata, Rasulullah Saw bersabda, “Dirikanlah shalat malam, karena sesungguhnya shalat malam itu adalah kebiasaan orang-orang shaleh sebelum kamu, (shalat malam dapat) mendekatkan kamu kepada tuhanmu, (shalat malam adalah) sebagai penebus perbuatan buruk, mencegah berbuat dosa, dan menghindarkan diri dari penyakit yang menyerang tubuh.” (HR. Ahmad)

4. Sarana meraih kemuliaan …

Rasulullah Saw bersabda, “Jibril mendatangiku dan berkata, “Wahai Muhammad, hiduplah sesukamu, karena engkau akan mati, cintailah orang yang engkau suka, karena engkau akan berpisah dengannya, lakukanlah apa keinginanmu, engkau akan mendapatkan balasannya, ketahuilah bahwa sesungguhnya kemuliaan seorang muslim adalah shalat waktu malam dan ketidakbutuhannya di muliakan orang lain.” (HR. Al Baihaqi)

5. Jalan mendapatkan rahmat Allah …

Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Semoga Allah merahmati laki-laki yang bangun malam, lalu melaksanakan shalat dan membangunkan istrinya. Jika sang istri menolak, ia memercikkan air di wajahnya. Juga, merahmati perempuan yang bangun malam, lalu shalat dan membangunkan suaminya. Jika sang suami menolak, ia memercikkan air di wajahnya.” (HR. Abu Daud)

6. Sarana Pengabulan permohonan …

Allah SWT berjanji akan mengabulkan doa orang-orang yang menunaikan shalat tahajud dengan ikhlas. Rasulullah Saw Bersabda,

“Dari Jabir berkata, bahwa nabi Saw bersabda, “Sesungguhnya di malam hari , ada satu saat yang ketika seorang muslim meminta kebaikan dunia dan akhirat, pasti Allah memberinya, Itu berlangsung setiap malam.” (HR. Muslim)

7. Penghapus dosa dan kesalahan …

Dari Abu Umamah al-Bahili berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Lakukanlah Qiyamul Lail, karena itu kebiasaan orang saleh sebelum kalian, bentuk taqarub, penghapus dosa, dan penghalang berbuat salah.” (HR. At-Tirmidzi)

8. Jalan mendapat tempat yang terpuji …

Allah berfirman,

“Dan pada sebagian malam bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra’:79)

9. Pelepas ikatan setan …

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Setan akan mengikat kepala seseorang yang sedang tidur dengan ikatan, menyebabkan kamu tidur dengan cukup lama. Apabila seseorang itu bangkit seraya menyebut nama Allah, maka terlepaslah ikatan pertama, apabila ia berwudhu maka akan terbukalah ikatan kedua, apabila di shalat akan terbukalah ikatan semuanya. Dia juga akan merasa bersemangat dan ketenangan jiwa, jika tidak maka dia akan malas dan kekusutan jiwa.”

10. Waktu utama untuk berdoa …

Amru Ibn ‘Abasah berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah Saw, “Ya Rasulullah! Malam apakah yang paling di dengar?”, Rasulullah Saw menjawab, “Tengah malam terakhir, maka shalat lah sebanyak yang engkau inginkan, sesungguhnya shalat waktu tersebut adalah maktubah masyudah (waktu yang apabila bermunajat maka Allah menyaksikannya dan apabila berdoa maka didengar doanya)” (HR. Abu Daud)

11. Meraih kesehatan jasmani …

“Hendaklah kalian bangun malam. Sebab hal itu merupakan kebiasaan orang-orang saleh sebelum kalian. Wahana pendekatan diri pada Allah Swt, penghapus dosa, dan pengusir penyakit dari dalam tubuh.” (HR. At-Tarmidzi)

12. Penjaga kesehatan rohani …

Allah SWT menegaskan bahwa orang yang shalat tahajud akan selalu mempunyai sifat rendah hati dan ramah. Ketenangan yang merupakan refleksi ketenangan jiwa dalam menjalani kehidupan sehari-hari di masyarakat.

Allah Berfirman, “Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik. Dan orang yang melewati malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.” (QS. Al-Furqan: 63-64)

Keajaiban shalat tahajud sudah terbukti, maka bertahajudlah!

Mungkin masih banyak lagi keajaiban shalat tahajud yang mungkin terlewat dari tulisan ini. Yang pasti shalat tahajud merupakan shalat yang bagus sebagai ibadah tambahan bagi kita.

Subhanallah .. Shalat tahajud benar-benar dahsyat dalam meraih kebaikan dunia akhirat ..(Dz-Alzilzaal)

Anak Ajaib Ini Membuat 7-Juta Kristen menjadi Muslim

Monday, 16 June 2014 / No Comments
Subhanallah… sungguh benar-benar Anak Ajaib!!
Memang dirinya penuh keajaiban sejak dilahirkan. Terlahir dari keluarga Kristen sebagai anak ke-9 (wow!), ia pun benar-benar terlahir secara ajaib, dari seorang ibu yang mengalami kelumpuhan anggota badan tangan dan kaki setelah usia kandungan 5 bulan. Ajaib pula, bahwa kelahiran dirinya menyertai kesembuhan ibunya. Alhamdulillah… Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyembuhkan ibunya, dan melalui sentuhan ilahi menjadikan dia lahir ke dunia dan menjadi seorang anak yang ajaib.

Dakwahnya dimulai sejak Bayi!
Saat usia 9-bulan, ia mengingatkan kepada orang tuanya untuk melaksanakan Aqiqah. Ia juga mengatakan ingin menjadi Muslim. Tentu saja orang tuanya yang saat itu masih Kristen menolaknya. Dan baru terlaksana di sebuah masjid lokal saat ia berusia 3-tahun.

Saat pelaksanaan Aqiqah di Masjid Gongoni, saat itulah terjadi kegemparan. Ia secara ajaib berkhotbah tentang Islam tanpa diajari oleh siapapun, di usia tiga tahun. Menyusul kejadian di masjid itu dan apa yang terjadi di dalamnya, kakaknya, Michael, saat itu juga menjadi Muslim bersama dirinya.

Bapaknya, seorang Inspektur Polisi menjadi murka. Ia secara khusus mengambil cuti untuk memaksa kedua anaknya menjadi Kristen kembali, bahkan siap membunuhnya dengan pistol polisinya.

Namun setelah berdiskusi, dan ia menyadari kalah dalam pertempuran argumen, ia kemudian merelakan anaknya menjadi Muslim. Bahkan ia sendiri berhasrat untuk belajar dan memahami Islam. Setelah itu, ia tidak bisa lagi menolak kebenaran dan menyatakan harus bergabung dengan anaknya di jalan yang benar. Ia kembali ke fitrah, menjadi Muslim, memeluk agama Islam bersama seluruh keluarganya.

Ia mengubah nama baptisnya dari Maurice Robert Matongo menjadi Mikidadi Matongo. Demikian juga istrinya, dari Clemencial Michael Isamaki menjadi Marriam; dari Monica Leonard Jomanga menjadi Mwanaisha. Semua anaknya juga telah menjadi Muslim: Sara-Sarah; Albert-Abubakar; Mesent-Abdillahi; Devother-Fadhila; Boniface-Ibrahim; Grace-Faudhia; Samwel-Hamza; Jane-Sharifa; dan Michael-Yussuf dan tentunya…

Ya, si Anak Ajaib itu!, Fidelis, yang lahir di Kiloleni (10/10/1986), kota Tabora, Tanzania Utara, Afrika Timur. Dikenal sebagai Sheikh Shariff sejak 22 Desember 1989 setelah khotbah hebohnya di Masjid Gongoni sekaligus saat itu ia menjadi Muslim.

Adapun “Fidelis” menurut cerita bapaknya bukan merupakan nama baptis, tetapi semata pemberian darinya untuk mengingat kelahirannya. Bahkan menurut penuturan dari beberapa sumber, Fidelis mengatakan: “Mama usinibibaptize, naamini kwa Alla na jumbe wake Muhammad SAW!” Artinya: “Ibu, tolong jangan baptis saya, saya adalah orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, Muhammad SAW!”. Dan ajaib, itu diucapkan saat baru berusia sekitar 2-bulan! sebagai penolakkan ketika ia hendak dibaptiskan.
Dan melalui dirinya, sejauh ini telah menjadikan sekitar 7-juta orang Kristen, kembali ke-fitrahnya sebagaimana setiap orang dilahirkan, yakni menjadi Muslim.

Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam), maka kedua orang tua-nya lah yang menjadikan dia beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi. (HR. Al-Bukhari: 1358; Muslim: 2658; Ahmad: II/233).

Artikel tentang dirinya, tulisan Andrew England, juga pernah dimuat di surat kabar Skotlandia pada 8 Agustus 1999.

Didalamnya, disebutkan antara lain, bahwa pada usia empat bulan ia mulai membaca ayat-ayat Al-Qur’an. Pada usia satu tahun, ia mampu membaca seluruh Al-Qur’an dan mulai dapat berbicara dalam bahasa Arab, Swahili dan Perancis.

Saat usia lima tahun, ia dapat berkotbah dalam lima bahasa, Inggris, Perancis, Italia, Swahili dan bahasa Arab-meskipun ia benar-benar tidak melalui studi khusus. Ia adalah pengkhotbah yang menarik ribuan orang. Di usia ini juga, sebanyak seribu orang telah menjadi Muslim melalui dakwahnya.

Adapun dalam beberapa perjalanan dakwah selanjutnya, antara Mei 1994 sampai Desember 1994 Sheikh Shariff berkhotbah di Kota Dar es Salaam. Kawasan Pantai, Lushoto, di wilayah Tanga, Morogoro di wilayah Morogoro dan di Zanzibar. Dimana total 6870 orang kembali ke Islam.

Dari Maret 1995 sampai Desember 1995 ia berkhotbah di Dar es salaam, seluruh wilayah Pantai, wilayah Lindi. Di wilayah Mtwara dan Songea, Tunduma, Mbinga dan Ruvuma, dimana total 7.805 orang kembali ke Islam.

Dari Mei 1996 sampai Januari 1997, ia berkhotbah di wilayah Morogoro, wilayah Tanga, Iringa, Dodoma, Singida, Arusha, dan di wilayah Moshi Kilimanjaro. Ini adalah tahun yang sama dimana Sheikh Shariff mulai go internasional dengan pergi ke Kenya. Sementara di Kenya, ia berkhotbah di Mombasa, Malindi, dan Voi, di Kitui, Matinyani, dan Mwingi. Kemudian pindah ke Nairobi City. Selama kunjungan di Kenya, total 38.942 orang memeluk Islam, dst…

7 Juli 2004 ia pergi ke Uni Emirat Arab di Dubai selama satu minggu, kemudian kembali ke Oman hingga Agustus 2004, kemudian kembali ke Tanzania. Ia melanjutkan dakwah di semua wilayah dan provinsi Tanzania, dimana diperkirakan lebih dari 50.000 orang masuk Islam.

Dst… dst… sampai beberapa waktu yang lalu, Sheikh Sharrif bersama tim dakwahnya dan dukungan berbagai pihak; diantara kemudahan, halangan dan rintangan, alhamdulillah… sudah lebih dari 6.676.269 pria dan wanita telah menemukan kebenaran, telah berada diatas jalan lurus, memeluk Islam. Kembali ke fitrahnya sebagaimana semua orang terlahir sebagai Muslim

"Fitnah" lebih kejam daripada pembunuhan?

Saturday, 14 June 2014 / No Comments
"Fitnah" lebih kejam daripada pembunuhan?

Allah Ta’ala berfirman:

وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ
“Dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan.” (QS Al-Baqarah: 191)

وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ
“Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh.” (QS Al-Baqarah: 217)

Sebagian kalangan mentafsirkan ayat ini layaknya mentafsirkan bahasa Indonesia. Yaitu, fitnah yang berarti tuduh-menuduh itu lebih keji dan kejam daripada pembunuhan. Daalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia v1.3) ketika kita meng-entri kata “fit·nah”, maka akan kita dapati demikian

“perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yg disebarkan dng maksud menjelekkan orang (spt menodai nama baik, merugikan kehormatan orang): – adalah perbuatan yg tidak terpuji;
mem·fit·nah v menjelekkan nama orang (menodai nama baik, merugikan kehormatan, dsb.”

Maka ketika terjadi pertikaian berupa tuduh-tuduhan yang tidak mengenakkkan, orang dituduh akan serta-merta mengeluarkan dalil firman Allah di atas. “Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh.”

Namun benarkah demikian makna fitnah yang diinginkan Allah dalam ayat ini? Ataukah ada makna lainnya?
Baiklah, agar supaya kita tidak terjerumus ke dalam ancaman, “Siapa yang berkata tentang Al-Quran dengan akalnya (dalam riwayat lain: dengan sesuatu yang tidak ia ketahui), maka hendaknya ia mempersiapkan tempat duduknya di neraka,” mari kita telusuri pendapat para ulama yang pakar dalam disiplin ilmu tafsir.

Abu Al-‘Aliyah, Mujahid, Sa’id bin Jubair, ‘Ikrimah, Al-Hasan, Qatadah, Adh-Dhahak, dan Ar-Rabi’ bin Anas berpendapat tentang firman-Nya, “Dan fitnah itu lebih dahsyat dari pembunuhan,”: “Kemusyrikan itu lebih dahsyat daripada pembunuhan.”

Syaikh Muhammad Nawawi bin ‘Umar Al-Bantani Asy-Syafi’i –rahimahullah- menjelaskan dlam tafsirnya (I/64), “{Dan fitnah itu lebih dahsyat daripada pembunuhan}, yaitu ujian yang dengannya seseorang teruji seperti dikeluarkan dari tanah air, itu lebih berat daripada pembunuhan. Sebab, susahnya lebih lama dan sisa sakitnya lebih lama. Ada yang berpendapat: kemusyrikan kalian terhadap Allah dan peribadatan kepada berhala-berhala di tanah haram itu serta pencegahan kalian terhadap kaum muslimin darinya (baca: dari tanah haram) lebih jelek daripada kalian membunuh mereka di dalamnya.”

Berkaitan dengan ayat ke-217, Ibnu Jarir Ath-Thabari dan Ibnu Katsir menjelaskan:
وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ أي قد كانوا يفتنون المسلم في دينه حتى يردوه إلى الكفر بعد إيمانه فذلك أكبر عند الله من القتل
“{Dan fitnah itu lebih besar (dosanya) daripada pembunuhan}, artinya mereka telah menganggu agama seorang muslim sehingga mereka mengembailkanya kepada kekufuran setelah keimanannya, maka yang demikian itu lebih besar (dosanya) menurut Allah.”

Al-Imam Al-Baghawi menjelaskan, “{Dan fitnah itu} yaitu kemusyrikan yang melekat pada kalian itu {lebih besar (dosanya) daripada pembunuhan}.”

Al-‘Allamah Muhammad Shiddiq Hasan Khan Al-Qinnuji Al-Bukhari –rahmatullah ‘alaih- menjelaskan, “{Dan fitnah itu lebih besar (dosanya) daripada pembunuhan}. Yang dimaksud dengan fitnah di sini adalah kekufuran dan kemusyrikan. Yang mengatakan demikian adalah Ibnu ‘Umar. Artinya, kekufuran kalian itu lebih besar (dosanya) daripada pembunuhan yang kalian lancarkan kepada sarriyyah (pasukan perang yang tidak diikuti Nabi) yang diutus oleh Nabi –shallallahu ‘alahi wa sallam-. Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud fitnah di sini adalah mengeluarkan penduduk Makkah darinya (baca: dari Makkah). Ada juga yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan fitnah di sini adalah gangguan yang mereka lancarkan terhadap agama mereka (kaum muslimin) sehingga mereka binasa, maksudnya fitnah yang ditujukan kepada orang-orang lemah dari kalangan kaum mukminin, fitnah yang sama dengan fitnahnya kaum kuffar yang tengah mereka pijaki.” (Fat-h Al-Bayan ‘an Maqashid Al-Quran I/436)

Sampai di sini kita dapat menyadari tidak ada satu pun ulama pakar tafsir yang memahami fitnah di sini sebagaimana yang dipahami oleh sementara sebagian kalangan. Dan perlu diketahui bahwa fitnah dalam bahasa Indonesia berbeda dengan bahasa ‘Arab. Fitnah dalam bahasa Indonesia biasa diwakili kata “buhtan” dalam bahasa ‘Arab. Sedangkan fitnah dalam bahasa ‘Arab memiliki arti yang tidak sedikit. Di antaranya adalah: cobaan, ujian, musibah, azab, dan selainnya.
Allahua’lam.